Home / Berita Umum / Indonesia Bisa Jadi Jembatan Perdamaian

Indonesia Bisa Jadi Jembatan Perdamaian

Indonesia Bisa Jadi Jembatan Perdamaian – Pertemuan pada Presiden AS Donald Trump serta pemimpin Korea Utara Kim Jong-un jadi pertemuan pertama pada pemimpin ke-2 negara sesudah 70 th. ikut serta kemelut.

Meskipun Indonesia tdk ikut serta segera dalam pertemuan, tetaplah saja dapat punyai andil dalam wujudkan denuklirisasi Semenanjung Korea, yang nampaknya tidak lagi segera terwujud cuma lewat satu pertemuan puncak.

Hal itu disibakkan oleh Profesor Yang Seung Yoon, guru besar pertalian internasional di Hankook University, Korea Selatan, sebagai Dosen Tamu Kampus Gajah Mada, Yogyakarta.

” Untuk Indonesia terdapat banyak peluang yang baik untuk mendekatkan, memajukan pertalian ke-2 negara, serta pertalian pada Korea Utara serta ASEAN. ” ujarnya.

Prof Yang memberikan kalau pertemuan bersejarah di Pulau Sentosa, Singapura, belum juga pasti juga akan hasilkan terobosan bermakna dalam soal denuklirisasi Korea Utara meskipun terang dapat jadi awal dari normalisasi pertalian ke-2 negara.

” Apakah dalam waktu relatif cepat mata dalam peluang hanya 1x KTT selesaikan seluruhnya? Kita orang-orang internasional mesti sabar menanti pertalian itu sedikit untuk sedikit lebih baik pada Korea Utara dengan Amerika Serikat, ” tutur Yang pada BBC Indonesia.

Serta pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, dilaporkan bahkan juga telah mengundang Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengadakan pertemuan ke-2 di Pyongyang, Juli ini.

Menurut laporan harian Korea Selatan, Joongang Ilbo -yang mengutip satu sumber di Singapura- pertemuan ke-2 di ibu kota Korea Utara itu akan fokus pada penajaman point denuklirisasi yang dibicarakan Trum serta Kim pada Selasa (12/02) pagi.

Jika pertemuan ke-2 berlanjut, jadi juga akan dilanjutkan dengan pertemuan setelah itu yang di gelar di Washington, AS, pada September yang akan datang.

Banyak yang mengira kalau Korea Utara tidak lagi segera bersedia hentikan program senjata nuklirnya meskipun negara itu benar-benar menginginkan penghentian sangsi internasional jadi imbalannya.

Bagaimanapun, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, bersikukuh denuklirisasi jadi konsentrasi paling utama pada pertemuan Trump-Kim di Singapura.

” Kami selalu memiliki komitmen pada denuklirisasi utuh, dapat diverifikasi serta langgeng di Semenanjung Korea, ” kata Pompeo lewat account Twitter, Senin (11/06) pagi, satu hari mendekati pertemuan bersejarah itu.

Namun -seperti dilaporkan wartawan BBC di Seoul, Laura Bicker- Kim juga akan memperjuangkan tiga gossip dalam KTT di Pulau Sentosa, yakni keamanan, kehormatan, serta kesejahteraan Korut.

Dalam soal keamanan, Kim dinilai juga akan menuntut AS untuk hentikan kesibukan di pangkalan militernya di Korea Selatan.

Diluar itu, Kim juga dimaksud menginginkan kembalikan citra negaranya yang sampai kini di anggap tutup diri dari dunia internasional serta tidak menghormati hak asasi manusia.

Tentang kesejahteraan, sangsi ekonomi internasional yang dijatuhkan pada Korut udah hentikan roda perekonomian negara itu, jadi membaiknya pertalian pada Korea Utara serta AS juga jadi berita istimewa untuk orang-orang Korea Utara.

” Untuk Korea Utara sendiri, bila pertalian ke-2 negara juga akan lebih baik, baik sisi ekonomi nasional Korea Utara ataupun untuk orang-orang umum di Korea Utara pastinya bakal lebih baik, ” terang Profesor Yang Seung Yoon.

Berdasarkan data Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi serta Pembangunan (OECD), pendapatan per kapita orang-orang Korea Utara sebesar US$1. 800 atau sekitaran Rp24, 9 juta dalam satu tahun, yang sama dengan 1/2 dari pendapatan per kapita orang-orang Indonesia, sebesar US$3. 634 atau Rp50, 4 juta.

Sesaat ‘saudara’ mereka di Korea Selatan punyai pendapatan kian lebih tinggi, sebesar US$24. 079 atau Rp334 juta per th..

Maknanya untuk Indonesia
Yang Seung Yoon melihat pertalian yang lebih baik pada Korea Utara serta AS juga akan buat Indonesia memperoleh peluang untuk tingkatkan kapabilitas diplomatiknya dengan bertindak dalam membuat perdamaian di Semenanjung Korea.

Terlebih Indonesia punyai pertalian baik dengan ke-3 negara : Amerika Serikat, Korea Utara, serta Korea Selatan.

” Untuk Indonesia terdapat banyak peluang yang baik untuk mendekatkan, memajukan pertalian ke-2 negara, serta pertalian pada Korea Utara serta ASEAN. “

Pandangan yang dapat dukungan oleh guru besar Pengetahuan Hubungan Internasional Kampus Bina Nusantara, Prof Tirta Mursitama, mengingat tempat Indonesia yang dipilih kembali jadi anggota tdk tetaplah Dewan Keamanan PBB.

” Ini malah jadi peristiwa yang dapat diperlukan Indonesia untuk lebih bertindak, terutama di lokasi Asia, dalam membuat perdamaian, ” tutur Tirta.

Terlebih, tambah Tirta, ditilik dari histori, Indonesia punyai kedekatan dengan Korea Utara, yang diawali pada saat masa Presiden Soekarno.

” Pasti bila kita juga pengin mengkapitalisasi dari segi histori, saya sangka itu begitu baik serta oleh sebab praktis kita tdk miliki persoalan dengan Korea Utara. Mungkin saja Korea Utara makin yakin dengan kita. “

” Misalnya bila kita tengok juga, perdagangan export import kita juga jalan, walau dalam volume yang tidaklah terlalu besar, itu dapat ditingkatkan, ” lebih Tirta.

Pada th. 1965, Kim Il-sung -pemimpin Korea Utara yang disebut kakek Kim Jong Un- berkunjung ke Indonesia serta di ajak Presiden Soekarno untuk berkeliling-keliling Kebun Raya Bogor. Saat itu Kim tua tertarik dengan bunga anggrek dari Makassar.

Soekarno lalu menamai bunga itu Kimilsungia serta mengatakannya jadi lambang persahabatan kekal antar ke-2 negara.

Pada th. 2002, Presiden Megawati Soekarnoputri -yang juga putri dari Soekarno- melawat ke Korea Utara serta bersua dengan pemimpin Kim Jong-Il, bapak dari Kim Jong Un, di Pyongyang.

Tiga th. lalu, Ketua Yayasan Pendidikan Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri, berikan penghargaan Soekarno Award pada Kim Jong-un karna di anggap ” berkelanjutan melawan dominasi nekolim (neo-kolonialisme imperialisme) atau penjajahan berbentuk baru “.

Namun terang masih tetap dinanti-nanti apakah latar belakang histori itu memanglah dapat jadi kapabilitas dalam wujudkan perdamaian di Semenanjung Korea, yang sekarang ini terlalu fokus pada KTT Kim-Trump.

About admin