Home / Berita Umum / Perdagaan Satwa Liar Berhasil Di Ungkap Polda Jatim

Perdagaan Satwa Liar Berhasil Di Ungkap Polda Jatim

Perdagaan Satwa Liar Berhasil Di Ungkap Polda Jatim – Polda Jawa timur melepasliarkan Komodo hasil papar perdagangan ilegal. Pelepasliaran ini menurut kesepakatan dengan Dirjen KSDAE dengan surat Nomer S.301/KSDAE/KKH/KSA-2/4/2019 tanggal 24 April 2019.

Dalam surat itu Dirjen KSDAE memberikannya kesepakatan satwa komodo hasil perdagangan illegal di Propinsi Jawa Timur buat dilepasliarkan. Masalah ini sesuai sama PP.7 tahun 1999 mengenai Pengawetan Model TSL klausal 19 ayat 2. Jika pengamanan model TSL diantaranya bisa dilaksanakan dengan pengembalian ke habitatnya.

“Pelepasliaran satwa komodo ke habitatnya adalah prioritas penting. Langkah awal yang dilaksanakan ialah kerjakan uji DNA yang memiliki tujuan buat jelas asal mula satwa Komodo (Varanus komodoensis) itu,” Wiratno, Dirjen KDSAE Kementerian LHK di Kantor BKSDA Jawa timur di Sidoarjo waktu di konfirmasi, Sabtu (13/7/2019).

Uji DNA dilakukan oleh Laboratorium Genetika Bagian Zoologi, Pusat Pengamatan Biologi – LIPI. Uji DNA itu dilaksanakan lewat pembandingan di antara DNA sampel darah dari 6 (enam) ekor Komodo sebagai tanda bukti tindak pidana perdagangan satwa liar dengan cara illegal. Dengan 8 (delapan) haplotipe Control Region (CR) 1 yang udah didapati menurut hasil pengamatan LIPI awal mulanya.

Ke-enam sampel darah Komodo yang diujikan itu miliki haplotipe yang ciri khas di populasi Flores Utara, dengan jumlahnya 88% dari sampel populasi pengamatan awal mulanya. Haplotipe itu diketemukan di Flores Barat, tapi cuma dalam jumlahnya yang benar-benar kecil (<2,5 prosen dari sampel populasi pada pengamatan awal mulanya).

“Hasil uji DNA itu tunjukkan jika ke-enam ekor Komodo itu bertipical kelamin betina. Menurut hasil uji DNA yang dilaksanakan oleh LIPI itu bisa diambil kesimpulan jika ke-enam ekor Komodo yang dipergadangkan dengan cara illegal itu adalah model yang datang dari Flores Utara, serta tidak dari lokasi Taman Nasional Komodo,” makin Wiratno.

Perlu untuk diketahui, dengan cara alami satwa Komodo menebar di lokasi Taman Nasional Komodo serta di daratan Flores. Menurut hasil monitoring tahun 2018, di lokasi Taman Nasional Komodo direncanakan ada 2.897 ekor komodo yang menyebar di lima pulau besar ialah Pulau Komodo (1.727 ekor), Pulau Rinca (1.049 ekor), Pulau Padar (6 ekor), Pulau Gilimotang (58 ekor) serta Pulau Nusa Kode (57 ekor). Sedang menurut penilaian dengan memakai kamera trap yang dilaksanakan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam NTT di daratan Flores diperoleh hasil seperti berikut;

“Di CA Wae Wuul ada 4-14 ekor (2013 s/d 2018); Pulau Ontoloe (TWA Riung 17 Pulau) 2-6 ekor (2016 s/d 2018); Rimba Lindung Pota 6 ekor (2016 s/d 2018); serta Pulau Longos 11 ekor (2016),” tangkisnya Wiratno.

Area pengembalian ke habitat/pelepasliaran satwa komodo berpedoman dalam hasil uji DNA yang udah dilaksanakan oleh Laboratorium Genetika Bagian Zoologi, Pusat Pengamatan Biologi – LIPI. Area habituasi serta pelepasliaran diagendakan di Pulau Ontoloe, Kab. Ngada, Flores NTT (habituasi saat ±1 minggu).

Majelis Hakim PN Surabaya udah keluarkan ijin pada BBKSDA Jawa timur buat melepasliarkan 6 (enam) ekor komodo ke habitatnya (Surat Pemastian No.1261 serta 1267 tanggal 12 Juni 2019 serta No.1593 tanggal 13 Juni 2019). Dalam proses pengiriman satwa komodo dari surabaya ketujuan Nusa Tenggara Timur memakai dokumen SATS-DN.

Dilakukan oleh BBKSDA NTT bekerja sama-sama dengan Yayasan Komodo Survival Program (KSP), perkembangan persiapan s/d 16 Juni 2019. Adalah pengerjaan kandang sesaat (kandang habituasi) ukuran 8×8 mtr. di Pulau Ontoloe.

BBKSDA Jawa Timur udah mempersiapkan kandang angkut serta udah dipasang tagging pada ke enam satwa komodo. Pengecekan kesehatan satwa oleh Karantina Hewan. Stage proses pelepasliaran itu udah semua dilakukan, sampai-sampai di hari ini, 12 Juli 2019 pemberangkatan ke-enam satwa komodo hasil perdagangan illegal bisa kita lakukan.

“Ke enam satwa komodo s/d sekarang dalam situasi sehat serta akan diberangkatkan pada tanggal 13 Juli 2019,” imbuhnya.

About penulis77